Our enemies are ignorance, poverty and conflict, We shall urge Holy war against these three enemies with weapon of industries, learning and unity {Said Nursi}

Peresmian Universitas Darussalam Gontor

Bulan Ramadhan lalu, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor resmi beroperasi. Untuk itu, UNIDA akan menambah...(Baca Selengkapnya)

Pengukuhan Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi MA,

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. No.197/E/O/2014 tentang Izin Pendirian Universitas Darussalam. . .(Baca Selengkapnya)

Windows 10 Preview

Ingin menjalankan OS ini??! Pasti pertama kali muncul di benak anda adalah tentang spesifikasi minimum yang bisa. . . (Baca Selengkapnya)

Direktori Media Da'wah Islam

Da'wah dalam segala macam dan jenisnya merupakan kewajiban bagi bagi setiap muslim. Da'wah berarti. . .(Baca Selengkapnya)

Revitalisasi Teknologi Informasi Untuk Da'wah Islam

Apa Itu Teknologi Informasi ? Teknologi berasal dari bahasa Latin, textere yang berarti 'membangun' dan perkembangannya memerlukan. . .(Baca Selengkapnya)

Showing posts with label berita. Show all posts
Showing posts with label berita. Show all posts

Thursday, 25 September 2014

Prof. Dr. Amal Fathullah Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Akidah dan Filsafat

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. No.197/E/O/2014 tentang Izin Pendirian Universitas Darussalam Gontor.
Surat Keputusan tersebut dibacakan langsung oleh H. Mulyono Jamal, M.A selaku Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Darussalam Gontor.

Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Akidah dan Filsafat dengan karyanya yang berjudul “Nahwa Ilmi al-Kalam al-Jadid” atau “Menuju Pembaharuan Ilmu kalam” yang juga menjadi judul orasi ilmiah yang ia sampaikan dengan menggunakan bahasa Arab pada acara tersebut.

“Ilmu kalam merupakan ilmu yang digunakan untuk membuktikan kebenaran akidah dengan dalil-dalil yang pasti bersumber dari dalil ‘aqly maupun naqly,” kata Fathullah mengutip pendapat ulama.

Pembuktikan tersebut menurut Fathullah, guna menjawab berbagai keraguan yang ditimbulkan oleh para penentang Islam. Hingga pada akhirnya, keraguan tersebut dapat hilang dan berganti keimanan yang mampu membawa ketenangan dalam hati, serta menghilangkan keraguan (syubhat) dan menundukkan hawa nafsu.

“Ilmu kalam, merupakan ilmu penting dan mulia. Dalam Islam, ilmu kalam sebagai  ilmu  yang memberikan pembuktian kebenaran akidah Islam dan sebagai jawaban terhadap berbagai serangan akidah lain dari para penentang Islam,” tegas Fathullah.

Acara pengukuhan dilakukan oleh Mantan Rektor Institut Studi Islam Darussalam Gontor, Drs. H. Kafrawi Ridwan, M.A.

Dalam acara tersebut hadir Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Ainun Na’im, Ph.D mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mantan Menteri Agama M. Maftuh Basuni sebagai salah seorang anggota Dewan  Kurator bersama Prof. Ja’far Abdussalam dari Mesir, sebagai Pimpinan Assosiasi Universitas Islam Internasional, Rektor Universitas Sultan Agung Semarang,  Dr. Anis Malik Toha, Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maliki Ibrahim Malang.

Selain acara pengukuhan  juga dilakukan acara serah terima jabatan dari Rektor lama Institut Studi Islam Darussalam, Drs. Kafrawi Ridwan, M.A kepada Rektor baru Universtitas Darussalam Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.

sumber : hidayatullah.com

Peresmian Universitas Darussalam Gontor



Universitas Darussalam (UNIDA) GontorPerwujudan Cita-Cita Pendiri Gontor

Bulan Ramadhan lalu, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor resmi beroperasi. Untuk itu, UNIDA akan menambah beberapa fakultas. Inilah salah satu cita-cita Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yakni berdirinya universitas berbasis pesantren.

Penyerahan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh kepada Amal Fathullah Zarkasyi beserta rombongan Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor menandai resminya Universitas Darussalam (UNIDA) di tahun 2014.

Surat keputusan yang diserahkan tanggal 18 Juli itu juga menandakan tercapainya cita-cita Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Imam Zarkasyi, KH. Ahmad Sahal, dan KH. Zainuddin Fananie tentang upaya mempersiapkan generasi terbaik untuk masa depan Islam dan Muslimin melalui pendidikan tinggi.

Sejak berdiri tahun 1964, UNIDA telah berulang kali berganti nama. Pada tahun berdirinya, diberi nama Institut Pendidikan Darussalam (IPD) dengan dua fakultas: Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin. Kemudian pada awal tahun 1990-an, IPD membuka Fakultas Syariah dan berganti nama menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Tidak bisa dipungkiri, peresmian UNIDA menggantikan ISID memberikan konsekuensi, baik dalam hal administrasi, sarana prasarana, hingga penambahan fakultas. Jika saat bernama IPD memiliki dua fakultas, ISID tiga fakultas, maka dengan diresmikan UNIDA jumlah fakultas di Perguruan Tinggi Pesantren pertama di Indonesia itu pun harus bertambah.

Fakultas yang sudah ada, seperti Tarbiyah, Ushuluddin dan Syariah, akan dikolaborasikan dengan fakultas umum: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Fakultas Humaniora, Fakultas Ilmu Kesehatan, serta Fakultas Sains dan Teknologi. Tidak ketinggalan, ada Program Studi Ilmu Aqidah dan Bahasa Arab sebagai andalan program pascasarjana.

Selain itu, persoalan SDM juga menjadi problem tersendiri. Pasalnya, jumlah tenaga pengajar yang terbatas, khususnya untuk fakultas umum, membuat UNIDA melalui Rektorat memutuskan untuk merekrut dosen yang berasal dari luar lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Sebelumnya, UNIDA memang memprioritaskan guru senior yang tinggal di dalam sebagai tenaga pengajar. Tentu, kebijakan ini tidak mengurangi profesionalitas dalam proses pengajaran di kampus maupun di pondok. Terlebih masa transisi dari ISID ke UNIDA juga mensyaratkan penambahan sarana dan prasarana, seperti asrama dan perpustakaan.

Hingga Sabtu (9/8), proses pembangunan perpustakaan terus dikebut. Pembangunan gedung fakultas di timur gedung utama juga dikebut. “Kami berharap gedung fakultas selesai dalam satu tahun ke depan,” ujar Hamid Fahmy Zarkasyi mengacu pada upaya mobilisasi kegiatan di UNIDA.
Selain itu, pengeluaran dana hampir Rp 64 miliar menunjukkan keseriusan Pondok Modern Darussalam Gontor untuk merealisasikan Universitas Islam berbasis pesantren pertama di Indonesia itu. Untuk mahasiswa, saat ini UNIDA masih didominasi oleh sebagian besar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor.

Komposisi ini kemudian akan berubah pada tahun-tahun mendatang dengan menerima mahasiswa dari luar. “Untuk tahun pertama dan kedua, mayoritas mahasiswa berasal dari lulusan KMI saja. Tahun ketiga, UNIDA akan membuka penerimaan mahasiswa dari luar KMI,” ujar Pembantu Rektor II UNIDA, Setiawan Lahuri, kepada Majalah Gontor.

Sistem administrasi kemahasiswaan juga tidak luput dari proses pembaharuan. Mulai tahun ini, UNIDA menerapkan sistem berbasis online. Nantinya, pengajuan materi dan nilai akan melalui proses komputerisasi.

Induk administratif pun berubah. Jika sebelumnya induk administratifnya di bawah Departemen Agama atau Kopertais, saat berganti nama UNIDA berganti induk di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan atau Kopertis.

Bagi Setiawan, perpindahan induk administratif ini juga memiliki kelebihan, seperti urusan administrasi dan kemudahan dalam pengajuan biaya penelitian. “Di bawah Kopertis, dana penelitian melimpah. Maka ini bisa dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin untuk kemajuan UNIDA ke depannya,” kata Setiawan.


Universitas Berbasis Pesantren

Salah satu keunggulan sistem pendidikan UNIDA adalah menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi yang berbasis pesantren. Mahasiswa dituntut 24 jam berada di kampus. Mahasiswa juga dihadapkan pada segudang kegiatan kemahasiswaan, mulai dari kegiatan intra kampus maupun luar kampus.

Mahasiswa UNIDA tidak dilibatkan di organisasi seperti Himpunan Mahasiswa islam (HMI) maupun Persatuan Mahasiswa islam Indonesia (PMII). UNIDA lebih mengaktifkan organisasi mahasiswa yang diberi nama Dewan Mahasiswa (DEMA). DEMA sebagai pengayom kegiatan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar.

Saat ini, DEMA memiliki beberapa cabang, seperti di Gontor, Siman, Mantingan, Kediri, dan Magelang. Semuanya berada di bawah pimpinan DEMA Pusat yang berkedudukan di Gontor. Sistem pesantren ini sepenuhnya dijalankan secara nyata oleh DEMA sebagai fasilitator harian.

Para dosen pun ikut mengontrol kegiatan mahasiswa secara umum. Tercatat ada kurang lebih 20 dosen yang tinggal di dalam kampus. Tugas dosen tersebut tidak saja untuk mengajar perkuliahan, tetapi juga menjaga agar kualitas akhlak mahasiswa tetap terjaga.

Seperti halnya santri, mahasiswa UNIDA diharuskan menyetor hafalan di setiap semesternya. Setelah wisuda, mahasiswa memiliki hafalan al-Qur’an atau surat-surat tertentu. Selain itu, diskusi antar mahasiswa, pembuatan majalah kampus, mengajar TPA di sekitar UNIDA, mengajar pramuka menjadi agenda rutin mingguan mahasiswa UNIDA.

Dengan semboyan “Olah pikir, olah zikir dan olah raga”, DEMA tiap tahunnya mempersiapkan beragam acara, mulai dari seminar, studi banding antarkampus, hingga olimpiade ekonomi Islam bagi mahasiswa lintas kampus.

Kedatangan tokoh internasional juga menjadi agenda tahunan UNIDA. Tercatat, dosen Al-Azhar Mesir, Dr. Mustafa Dasuki Kasabah hingga mufti Syiria, Wahbah Zuhaili pernah mengunjungi kampus yang dikelilingi hamparan sawah tersebut.

UNIDA di bawah komando Hamid Fahmy Zarkasyi menjelma sebagai salah satu universitas yang menentang keras aliran liberalisme, sekularisme, dan pluralisme agama di Indonesia. Segala materi pembelajaran dan diskusi diarahkan untuk membendung arus pemikiran ala Barat tersebut.

Upaya yang dibangun pun tidak main-main. Salah satunya keberadaan Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) sebagai lembaga kajian Islam dan ketimuran yang digagas oleh Hamid Fahmy Zarkasyi. Puluhan karya telah diterbitkan. Ribuan karya berbahasa Arab maupun Inggris dari ulama salaf hingga ulama kontemporer juga telah dipersiapkan.

Tidak berhenti dengan CIOS, ada pula Pendidikan Kaderisasi Ulama (PKU) kerjasama MUI. Programnya diadakan secara intensif selama 6 bulan. Dan di akhir program, mahasiswa PKU ditugaskan untuk mempresentasikan tugas akhirnya di tempat-tempat yang telah ditentukan, seperti di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya.

Sebuah anugerah besar bagi umat Islam di Indonesia atas beroperasinya universitas berbasis pesantren pertama di Indonesia ini. Terlebih misi untuk membendung arus liberalisasi menjadi daya tarik tersendiri bagi umat yang cinta akan ilmu pengetahuan yang menyegarkan dan mencerahkan.
oleh Mohamad Deny Irawan